Sunday, May 12, 2013

Star Trek Into Darkness: Dan Abrams Pun Mengecewakan Saya


Ulasan ini mengandung plot spoiler. Bagi yang belum menyaksikan film ini, dapat membaca ulasan saya yang bebas spoiler di situs Layar Tancep.

Sutradara : J. J. Abrams
Penulis Naskah : Roberto Orci, Alex Kurtzman, Damon Lindelof
Pemeran : Chris Pine, benedict Cumberbatch, Zachary Quinto, Zoe Saldana

Pada tahun 2009, J. J. Abrams menyegarkan kembali sebuah franchise science fiction yang sudah berusia puluhan tahun. Star Trek yang saat itu sudah mengalami kejenuhan dalam cerita dan karakter diperbaharui dengan cara yang cerdas, pembawaan yang segar, dan memuaskan secara visual. Tak heran jika film ini masuk ke dalam jajaran salah satu film terbaik di tahun 2009. Namun dibutuhkan 4 tahun penantian bagi para fanboys dan penikmat film untuk kembali bertualang bersama Jim Kirk dan crew USS Enterprise. Dan penantian tersebut terbayar sudah melalui Star Trek Into Darkness, sebuah sequel yang penuh dengan gaya khas Abrams. Namun, apakah film ini mampu menjadi film yang lebih baik dibandingkan film pendahulunya?

Kirk (Chris Pine) dan USS Enterprise baru saja menjalani sebuah misi pengamatan Planet Nibiru yang berubah menjadi sebuah misi penyelematan, saat dia mendapati bahwa tindakan yang dia ambil di misi tersebut mengancam karirnya. Namun masalah lebih besar muncul, saat salah satu cabang Starfleet di London diledakkan oleh sosok bernama John Harrison yang disebut-sebut sebagai orang dalam Starfleet sendiri. Starfleet, melalui tangan Admiral Marcus (Peter Weller) mengizinkan Kirk untuk memburu Harrison yang berada di Cronos, planet yang dihuni oleh ras Klingon, yang saat itu sedang berada di ambang peperangan dengan Starfleet. Admiral Marcus pun mengizinkan Kirk dan Enterprise untuk membawa 72 senjata khusus yang dirakit oleh unit rahasia Starfleet demi memburu Harrison. Di luar fakta bahwa dia adalah teror bagi Starfleet, siapa sebenarnya Harrison, sehingga Starfleet (khususnya Marcus) menginginkan dia mati, bukan hanya diadili?


Abrams tidak pernah mengecewakan saya setiap kali menyajikan sebuah film di layar lebar. Arahannya dalam reboot Star Trek di tahun 2009 adalah sesuatu yang berbeda dan baru. Salah satu hal paling cerdas yang dilakukan Abrams dan tim penulisnya di reboot Star Trek pada tahun 2009, adalah bagaimana mereka membentuk film tersebut sebagai sebuah reboot yang juga bisa dianggap sebuah sequel bagi 10 film terdahulunya. Star Trek adalah sebuah penyegaran total bagi franchise yang sedang menurun, tetapi tetap berpegang teguh pada akarnya dan tidak menyingkirkan 10 kisah yang sebelumnya pernah ada. Pembawaannya yang cerdas, stylish, dan penuh humor membuat film ini sangat nikmat untuk disaksikan berulang-ulang. Dengan menciptakan semesta alternatif, Abrams memiliki keleluasaan dalam berkisah untuk film-film selanjutnya, akan tetapi tetap bisa mengambil kisah-kisah lama untuk diselipkan sebagai referensi.


Namun, dengan kebebasan penuh dalam menentukan arah franchise ini, datanglah kekecewaan pertama saya terhadap Abrams. Ternyata Abrams lebih memilih untuk bermain aman dan sedikit tertebak untuk Into Darkness dan tidak menggunakan kebebasan tersebut. Kekecewaan saya yang pertama datang saat pengungkapan identitas sesungguhnya dari John Harrison. Fakta bahwa Harrison adalah Khan seperti dirumorkan selama ini menurut saya justru menjadi kartu mati bagi film ini. Sekian bulan penyangkalan yang dilakukan oleh pihak filmmaker dan cast bahwa Cumberbatch bukanlah Khan (yang memang hak mereka untuk melakukannya) seolah menjadi omong kosong penuh kebohongan. Dan pengungkapan bahwa Harrison adalah Khan lebih menjadi omong kosong lagi, karena sesungguhnya Abrams (dan Cumberbatch) bisa membawa karakter Harrison menjadi karakter villain non-canonical yang memiliki kisahnya sendiri dan bebas dari ikatan dengan karakter Khan yang pernah hadir di film Star Trek II: The Wrath of Khan (1982). Seorang villain yang mungkin bisa menjadi karakter yang ikonis jika tidak terbebani oleh sejarah franchise ini. Dan hal ini, membawa saya pada kekecewaan yang kedua.


Jika ada karakter Khan, tentunya film ini berkisah mengenai perseteruan antara Kirk/USS Enterprise/Starfleet vs. Khan. Bukan plot ini yang membuat saya kecewa, karena toh Abrams menghadirkan perseteruan yang tidak sama dengan perseteruan yang pernah hadir di The Wrath of Khan. Yang membuat saya kecewa adalah, mengapa Abrams seolah mengikuti pola yang dulu disajikan seri ini sebelum reboot? Jika The Wrath of Khan adalah film kedua di rangkaian film originalnya, mengapa Abrams harus mengambil karakter villain yang sama untuk film kedua Star Trek pasca reboot? Abrams pun melangkah lebih jauh lagi dengan menghadirkan satu rangkaian adegan di bagian klimaks film yang mengambil pola yang hampir serupa dengan klimaks The Wrath of Khan, walau dimodifikasi di berbagai sisi. Sebuah hal yang membuat saya tercabik, antara senang akan elemen nostalgia yang dibawa dan kecewa karena faktanya adegan tersebut adalah adegan ikonis di The Wrath of Khan

Walau menyajikan banyak aksi dan kejutan di plotnya yang sesungguhnya bagus, dengan kekecewaan di atas, Into Darkness tidak bisa memberikan impresi yang sama dengan yang Star Trek berikan. Kesegaran itu hilang, walau Into Darkness berhasil membawa saya ke dalam sebuah perjalanan yang mengasyikkan. Dan, jika Star Trek membagi porsi yang cukup merata pada para castnya walau terfokus pada karakter Kirk dan perjalanannya menjadi Kapten; Into Darkness gagal melakukan hal itu. Beberapa karakter terlihat seperti under-used dan perannya seolah tidak signifikan secara keseluruhan. Walau hal ini bisa dipahami, mengingat plot arc yang diambil Into Darkness berfokus pada karakter tertentu, tidak seperti Star Trek di mana plot arc-nya memang menyoroti kelahiran USS Enterprise secara keseluruhan. Dan bagi kalian yang bingung dengan maksud Into Darkness pada judul film ini, kita bisa menarik dua kesimpulan. Pertama, Into Darkness bisa berarti masuknya manusia ke dalam teritori gelap sifatnya sendiri, yaitu dendam. Karena film ini digerakkan oleh dendam sebagai bahan bakarnya. Dan kedua, Into Darkness yang bisa berarti perjalanan panjang USS Enterprise menuju kegelapan angkasa yang dinyatakan secara jelas oleh Abrams di penghujung film.


Star Trek Into Darkness bisa menjadi sebuah paket komplit yang sempurna jika saja Abrams dan tim penulisnya mau meningkatkan taruhannya atas film ini. Namun, akting cast yang semakin solid, visual effects yang semakin luar biasa, dan penggalian emosi dari karakternya yang semakin mendalam harus sedikit ternoda dikarenakan keenganan Abrams tersebut. Star Trek Into Darkness bukanlah film yang buruk. Ini jauh dari itu. Namun tentunya, di saat seseorang telah memberikan sesuatu yang sangat memuaskan sebelumnya, kita berharap ada peningkatan permainan setelahnya. Plot-wise, film ini gagal memberikan hal tersebut, bahkan dengan puntiran plot yang dilakukannya. Akan sangat menarik menyaksikan kelanjutan kisahnya, karena Abrams akan menyutradarai Star Wars: Episode VII; sementara di sisi lain, melalui Into Darkness, ia justru menunjukkan bahwa ini adalah sebuah permulaan perjalanan panjang bagi Kirk dan crew USS Enterprise (dan juga franchise ini). Pertanyaannya, akankah Abrams ada di perjalanan tersebut? Jika ya, apakah dia akan menghadirkan kesegaran yang dia bawa sebelumnya di Star Trek? Secara keseluruhan, Star Trek Into Darkness tentunya akan menjadi salah satu film rilisan terbaik musim panas ini tahun ini. Dengan kelemahan yang dimilikinya, film ini tetap menjelma menjadi sajian sinematik yang memukau, menghibur, dan asyik untuk disaksikan.

No comments:

Post a Comment