Ulasan ini mengandung plot spoiler. Bagi yang belum menyaksikan film ini, dapat membaca ulasan saya yang bebas spoiler di situs Layar Tancep.
Sutradara : J. J. Abrams
Penulis Naskah : Roberto Orci, Alex Kurtzman, Damon Lindelof
Pemeran : Chris Pine, benedict Cumberbatch, Zachary Quinto, Zoe Saldana
Pada tahun 2009, J. J. Abrams menyegarkan kembali sebuah franchise science fiction yang sudah berusia puluhan tahun. Star Trek yang saat itu sudah mengalami kejenuhan dalam cerita dan karakter diperbaharui dengan cara yang cerdas, pembawaan yang segar, dan memuaskan secara visual. Tak heran jika film ini masuk ke dalam jajaran salah satu film terbaik di tahun 2009. Namun dibutuhkan 4 tahun penantian bagi para fanboys dan penikmat film untuk kembali bertualang bersama Jim Kirk dan crew USS Enterprise. Dan penantian tersebut terbayar sudah melalui Star Trek Into Darkness, sebuah sequel yang penuh dengan gaya khas Abrams. Namun, apakah film ini mampu menjadi film yang lebih baik dibandingkan film pendahulunya?
Kirk (Chris Pine) dan USS Enterprise baru saja menjalani sebuah misi pengamatan Planet Nibiru yang berubah menjadi sebuah misi penyelematan, saat dia mendapati bahwa tindakan yang dia ambil di misi tersebut mengancam karirnya. Namun masalah lebih besar muncul, saat salah satu cabang Starfleet di London diledakkan oleh sosok bernama John Harrison yang disebut-sebut sebagai orang dalam Starfleet sendiri. Starfleet, melalui tangan Admiral Marcus (Peter Weller) mengizinkan Kirk untuk memburu Harrison yang berada di Cronos, planet yang dihuni oleh ras Klingon, yang saat itu sedang berada di ambang peperangan dengan Starfleet. Admiral Marcus pun mengizinkan Kirk dan Enterprise untuk membawa 72 senjata khusus yang dirakit oleh unit rahasia Starfleet demi memburu Harrison. Di luar fakta bahwa dia adalah teror bagi Starfleet, siapa sebenarnya Harrison, sehingga Starfleet (khususnya Marcus) menginginkan dia mati, bukan hanya diadili?
Sutradara : J. J. Abrams
Penulis Naskah : Roberto Orci, Alex Kurtzman, Damon Lindelof
Pemeran : Chris Pine, benedict Cumberbatch, Zachary Quinto, Zoe Saldana
Pada tahun 2009, J. J. Abrams menyegarkan kembali sebuah franchise science fiction yang sudah berusia puluhan tahun. Star Trek yang saat itu sudah mengalami kejenuhan dalam cerita dan karakter diperbaharui dengan cara yang cerdas, pembawaan yang segar, dan memuaskan secara visual. Tak heran jika film ini masuk ke dalam jajaran salah satu film terbaik di tahun 2009. Namun dibutuhkan 4 tahun penantian bagi para fanboys dan penikmat film untuk kembali bertualang bersama Jim Kirk dan crew USS Enterprise. Dan penantian tersebut terbayar sudah melalui Star Trek Into Darkness, sebuah sequel yang penuh dengan gaya khas Abrams. Namun, apakah film ini mampu menjadi film yang lebih baik dibandingkan film pendahulunya?
Kirk (Chris Pine) dan USS Enterprise baru saja menjalani sebuah misi pengamatan Planet Nibiru yang berubah menjadi sebuah misi penyelematan, saat dia mendapati bahwa tindakan yang dia ambil di misi tersebut mengancam karirnya. Namun masalah lebih besar muncul, saat salah satu cabang Starfleet di London diledakkan oleh sosok bernama John Harrison yang disebut-sebut sebagai orang dalam Starfleet sendiri. Starfleet, melalui tangan Admiral Marcus (Peter Weller) mengizinkan Kirk untuk memburu Harrison yang berada di Cronos, planet yang dihuni oleh ras Klingon, yang saat itu sedang berada di ambang peperangan dengan Starfleet. Admiral Marcus pun mengizinkan Kirk dan Enterprise untuk membawa 72 senjata khusus yang dirakit oleh unit rahasia Starfleet demi memburu Harrison. Di luar fakta bahwa dia adalah teror bagi Starfleet, siapa sebenarnya Harrison, sehingga Starfleet (khususnya Marcus) menginginkan dia mati, bukan hanya diadili?


