Wednesday, May 1, 2013

Kontemplasi Kebebasan Yang Membelenggu Dalam Rectify


Televisi kini telah menjadi media baru bagi banyak pekerja film untuk menyalurkan hasrat mereka. Entah mereka aktor, sutradara, atau penulis naskah. Jika dulu banyak pekerja televisi yang beralih jenjang ke dunia film karena merasa film adalah sebuah lompatan karir, maka kini sebaliknya, makin banyak pekerja dunia layar lebar yang masuk ke dalam dunia televisi. Dan hal ini kini tidak dimonopoli oleh stasiun TV nasional saja. Stasiun TV kabel justru menjadi sasaran banyak pekerja film untuk berkarya karena kebebasan berekspresi yang lebih dijamin, di mana saluran TV kabel kini tak ubahnya bioskop yang hanya memutarkan film-film indie berkualitas. Jika beberapa waktu lalu hanya HBO yang bisa menjadi pemimpin di segmen TV kabel, maka kini makin banyak saluran TV kabel yang menghasilkan serial-serial berkualitas tinggi. Sebut saja TNT dengan Southland-nya, AMC dengan Mad Men dan Breaking Bad, Showtime dengan Homeland, dan kini Sundance Channel dengan Top of the Lake dan Rectify.

Sundance Channel merupakan sebuah stasiun TV kabel yang merupakan 'perpanjangan' dari Sundance Institute, pihak penyelenggara Sundance Film Festival. Stasiun TV ini semula hanya memutar film-film indie yang tayang pada festival film tahunan tersebut, world cinema, dan film-film non-mainstream lainnya. Namun kini Sundance Channel telah merambah ke arah serial televisi, di mana serial pertama yang mereka tayangkan adalah Top of the Lake, sebuah drama yang berasal dari tangan kreatif Jane Campion. Dan setelah 7 episode berakhir, Sundance kembali menayangkan sebuah serial yang kini buzz-nya semakin terdengar kencang, Rectify.


Jika Top of the Lake adalah produksi bersama Sundance Channel, BBC Two (Inggris), dan UKTV (Australia/New Zealand); maka Rectify adalah serial yang diproduksi sendiri oleh Sundance Channel. Serial ini datang dari tangan aktor/penulis naskah/sutradara pemenang Oscar, Ray McKinnon dan duet produser serial high profile Breaking Bad, Mark Johnson dan Melissa Bernstein. Dengan perpaduan tangan-tangan dingin ketiga orang tersebut, apakah Rectify menjadi sesuatu yang luar biasa?


Rectify berkisah mengenai Daniel Holden, seorang narapidana yang dibebaskan setelah berada 19 tahun di dalam penjara. Daniel mendekam di balik lempeng baja karena terbukti bersalah telah memperkosa dan membunuh kekasihnya di masa remaja, Hannah. Namun sebuah bukti baru ditemukan. Sebuah tes DNA menyatakan bahwa bukanlah Daniel yang memperkosa Hannah. Penemuan ini membuat Daniel bebas, dan kembali hidup bersama keluarganya di sebuah kota kecil di Georgia. Namun 19 tahun bukanlah waktu yang pendek. Dunia yang Daniel kenal sudah menghilang. Dan asingnya dunia ini diperparah dengan banyaknya warga kota yang masih yakin, bahwa Daniel sesungguhnya memang memperkosa dan membunuh Hannah. Formula seperti itu memang bukanlah barang baru baik di dunia film maupun televisi. Belum lama ini Cinemax menayangkan kisah dengan tema hampir serupa melalui Banshee. Lalu BBC Three mengambil alegori pesakitan yang kembali ke keluarganya dan ditolak masyarakat melalui mini-seri zombie, In the Flesh. Lalu mengapa Rectify menjadi berbeda dari film atau serial dengan tema serupa lainnya?

Malick-esque
Kata Malick-esque memang banyak digunakan tahun 2013 ini. Jadi maafkan saya jika saya harus menggunakan kata tersebut, karena sepertinya Malick-esque (memiliki rasa seperti film-filmnya Terrence Malick) adalah kata yang paling mendekati untuk menggambarkan Rectify. McKinnon, yang memenangkan Oscar pada tahun 2002 melalui film pendek The Accountant (2001), tidak terburu-buru dalam menyampaikan maksudnya. Rectify bertutur secara perlahan, jika tidak bisa dibilang terlalu lambat untuk sebagian kalangan. Hal ini ditunjang dengan karakter Daniel yang jarang berbicara dan penggunaan sinematografi yang menangkap alam indah Georgia tanpa cela untuk membangun mood cerita. 


Dan masih ada akting para castnya yang luar biasa. Aden Young, yang sebelumnya dikenal melalui Killer Elite, menampilkan Daniel dalam banyak lapisan teka-teki. Akan sangat sulit memahami Daniel dan apa yang ada di benaknya, serta fakta mengenai kejadian 19 tahun lalu. Daniel adalah seorang anak baik. Daniel adalah seorang anti sosial. Daniel adalah orang yang kontemplatif. Daniel adalah seorang dengan mental terbelakang. Daniel adalah seorang psikopat. Kesemua itu bisa kita rasakan dalam satu diri Daniel di waktu yang berbeda-beda. Young sangat berhasil menjadi sosok Daniel yang enigmatis, mengerikan, dan di sisi lain mengundang belas kasihan.

Selain Young, pelakon lain yang bisa dibilang menonjol di serial ini adalah Abigail Spencer yang berperan sebagai adik Daniel yang protektif, Amantha. Amantha yang banyak berjuang demi kebebasan Daniel, kini harus berjuang membawa Daniel masuk ke dalam dunia yang asing. Hanya Amantha yang yakin bahwa Daniel tidak bersalah. Bahkan di saat sebagian anggota keluarganya masih menyimpan dugaan bahwa Daniel memang bersalah. Spencer mempersonifikasikan Amantha dengan sangat baik. Amantha yang penuh ledakan emosi namun rapuh ini, dibawakan Spencer dengan 'ringan' dan lancar. Entah, apakah Amantha memang perwujudan sifat Spencer yang sesungguhnya atau bukan. Yang pasti, Spencer berhasil menjadi Amantha, sebuah kembang api yang meledak terang dan kencang di tengah suram dan sepinya hidup Daniel.


Kontemplasi Tujuh Hari
Rectify hanya terdiri atas 6 episode dan bercerita dalam rentang waktu hanya 7 (tujuh) hari pasca bebasnya Daniel dari penjara. Lalu apakah serial ini akan mengungkap fakta di balik bersalah atau tidaknya Daniel? Jika serial dengan tema serupa pada akhirnya berusaha untuk mengungkap apakah Daniel bersalah atau tidak, saya tidak akan terkejut jika Rectify tidak menyuguhkan hal tersebut, terlebih dengan timeline yang begitu pendek. Dan tampaknya McKinnon memang 'tidak peduli' akan hal itu. Hal tersebut sengaja disisihkan oleh McKinnon, dan tampaknya akan menjadi misteri terbesar dari serial ini. Pembuktian Daniel bersalah atau tidak justru hanya menjadi sub-plot, karena yang ingin Rectify sampaikan adalah mengenai kehidupan Daniel dalam bebasnya namun penuh keterasingan. McKinnon seolah ingin menyampaikan, bahwa kebebasan kadang bisa menjadi suatu beban, sebuah belenggu bila kita tidak tahu bagaimana menangani kebebasan itu sendiri.

Jika kalian adalah penggemar film atau serial yang secara perlahan membangun moodnya, Rectify adalah sebuah serial yang harus kalian tonton. Rectify adalah serial yang berjalan lambat, namun tidak dapat kita prediksi arahnya. Sebuah perjalanan menarik penuh kontemplasi yang akan mengajak penontonnya berhenti sejenak untuk berpikir dan menyelami pemikiran seorang pesakitan dalam dunia yang bebas. Rectify dengan cerdasnya menohok kita dengan konsep kebebasan, dan mempertanyakan, apakah benar kita terbebaskan?


Rectify tayang di Sundance Channel setiap Senin malam. Semua episode serial ini dapat juga disaksikan di laman YouTube Sundance Channel (berbayar), dan tampaknya Asia akan segera dapat menikmati serial ini melalui stasiun TV kabel, karena Sundance Channel telah bekerjasama dengan AMC untuk mencari rumah bagi serial ini di Asia.


Created by Ray McKinnon
Written by Michael D. Fuller, Graham Gordy, Ray McKinnon
Directed by Ray McKinnon, Keith Gordon, Billy Gierhart, Nicole Kassell, Jim McKay, Romeo Tirone
Starring Aden Young, Abigail Spencer, Adelaide Clemens, Clayne Crawford, Sean Bridgers, J. Smith-Cameron, Luke Kirby, Hal Holbrook, Allie Hughes

No comments:

Post a Comment