Saturday, June 15, 2013

Era Baru si Manusia Baja


Superman adalah sebuah ikon di dunia superhero. Dapat dibilang, ialah pionir superhero yang akhirnya menjamur setelahnya dalam berbagai versi kekuatan super. Dengan usia yang sudah mencapai 75 tahun, Superman adalah franchise yang cukup banyak memiliki variasi cerita di dunia komik. Namun sayangnya, hal ini tidak berlaku di dunia film yang tampaknya kesulitan untuk menemukan formula yang pas untuk sang superhero ini. Nama-nama seperti Tim Burton, J. J. Abrams & McG, Wolfgang Petersen, dan George Miller pernah mencoba membangkitkan kembali Superman pasca Superman IV: The Quest of Peace di tahun 1987 yang menjadi bahan cercaan. Namun ternyata, Superman hadir kembali melalui tangan Bryan Singer di tahun 2006 melalui Superman Returns.

Film yang Singer arahkan ternyata disambut biasa saja. Banyak hal yang menjadi poin kegagalan film ini. Karena itu tak heran jika Warner Bros. dan DC Entertainment menginginkan adanya sesuatu yang baru bagi franchise ini. Dan akhirnya, diambillah keputusan untuk menulis ulang kisah manusia super ini di layar lebar, sebuah reboot pun dibuat. Warner Bros. pun tidak ingin tanggung-tanggung dalam menangani reboot ini. Dua nama di balik kesuksesan trilogi The Dark Knight dibawa masuk. Mereka adalah Christopher Nolan dan David S. Goyer. Yang mengejutkan, justru pemilihan sutradaranya. Warner Bros. dan Nolan ternyata memilih Zack Snyder, sutradara yang film terakhirnya, Sucker Punch, jatuh di pasaran. Namun adanya Nolan dan Goyer tampaknya cukup meyakinkan Warner Bros. bahwa potensi Snyder bisa teroptimalkan di Man of Steel.

Thursday, June 13, 2013

Are You Watching Closely?

Banyak orang yang mencari pengalaman menonton jika mereka pergi ke bioskop saat ini. Jadi, mereka tidak hanya menonton filmnya saja, tapi mencari value added dari tiket yang mereka beli di mbak-mbak cantik di loket tiket. Dan pihak pengelola bioskop pun tanggap atas berubahnya pola menonton masyarakat ini. Secra perlahan tapi pasti, segala kemajuan teknologi yang berhubungan dengan gedung bioskop pun disematkan ke dalam gedung bioskop yang mereka miliki. Mulai dari teknologi suara surround sound, teknologi proyektor digital yang menghilangkan pekerjaan banyak projectionist, teknologi usang yang disebut 3D, dan juga sebuah teknologi dari brand lama di dunia sinema yang beberapa tahun belakangan booming di seluruh dunia, IMAX.

Okay, melalui tulisan ini, sebetulnya saya ingin menyampaikan ketidaksukaan saya akan dua gimmicks yang jadi jualan pengusaha bioskop (dan pencipta serta pengaplikasi teknologi). Adalah 3D dan IMAX sebagai dua gimmicks yang saya maksud tersebut. Ya, memang, bagi sebagian orang kedua teknologi tersebut akan memberikan pengalaman yang lebih bagi mereka saat menontonnya di layar lebar. Namun entah kenapa, saya sendiri merasa keduanya seperti, ya balik lagi, trik dagang saja, bukan pemberi pengalaman yang sesungguhnya.

Sunday, June 9, 2013

My Movie Chronicle 3

Bahkan dari film inipun, ada analisa yang bisa dilakukan dan character study yang didapat.
Saya sudah dua kali membuat tulisan berjudul Movie Chronicle (baca di sini dan di sini) yang berisi tentang beberapa poin mengenai saya dan kegandrungan saya akan film. Dan setelah membaca lagi keduanya, saya sadari ada hal mendasar yang justru belum menjawab pertanyaan, mengapa saya menyukai karya seni bernama film. Sebuah pertanyaan yang sesungguhnya sudah diajukan pada My Movie Chronicle 1.

Ya, mengapa saya menyukai film? Dulu mungkin saya memang belum bisa menemukan jawaban pasti atas pertanyaan tersebut. Namun lambat laun, sayapun menyadari, kegemaran saya akan film didasari fakta bahwa saya senang mempelajari karakter manusia. Atau dengan kata lain, film menjadi medium character study bagi saya. Ya tentunya orang tak menyukai film pun akan tahu, bahwa sebuah film diisi berbagai macam karakter yang mendukung ceritanya. Ada protagonis, antagonis, atau yang abu-abu sekalipun. Namun lebih dari itu, saya senang menganalisa apa yang menggerakan pikiran seorang karakter untuk mengambil tindakan tertentu, bagaimana ia menentukan pilihan-pilihan dan menghadapi konsekuensinya, bagaimana bahkan seorang yang baik pun bisa menjadi binatang buas saat terpojok, atau bahkan seorang pembunuh berdarah dingin ternyata masih memiliki cinta kepada orang-orang di kehidupannya. Ini adalah sesuatu yang menarik, karena kita bisa melihat sebuah miniatur kehidupan dan jiwa manusia yang mengisinya ketika kita tidak mungkin untuk menyaksikannya secara langsung di kehidupan nyata.