Sunday, June 9, 2013

My Movie Chronicle 3

Bahkan dari film inipun, ada analisa yang bisa dilakukan dan character study yang didapat.
Saya sudah dua kali membuat tulisan berjudul Movie Chronicle (baca di sini dan di sini) yang berisi tentang beberapa poin mengenai saya dan kegandrungan saya akan film. Dan setelah membaca lagi keduanya, saya sadari ada hal mendasar yang justru belum menjawab pertanyaan, mengapa saya menyukai karya seni bernama film. Sebuah pertanyaan yang sesungguhnya sudah diajukan pada My Movie Chronicle 1.

Ya, mengapa saya menyukai film? Dulu mungkin saya memang belum bisa menemukan jawaban pasti atas pertanyaan tersebut. Namun lambat laun, sayapun menyadari, kegemaran saya akan film didasari fakta bahwa saya senang mempelajari karakter manusia. Atau dengan kata lain, film menjadi medium character study bagi saya. Ya tentunya orang tak menyukai film pun akan tahu, bahwa sebuah film diisi berbagai macam karakter yang mendukung ceritanya. Ada protagonis, antagonis, atau yang abu-abu sekalipun. Namun lebih dari itu, saya senang menganalisa apa yang menggerakan pikiran seorang karakter untuk mengambil tindakan tertentu, bagaimana ia menentukan pilihan-pilihan dan menghadapi konsekuensinya, bagaimana bahkan seorang yang baik pun bisa menjadi binatang buas saat terpojok, atau bahkan seorang pembunuh berdarah dingin ternyata masih memiliki cinta kepada orang-orang di kehidupannya. Ini adalah sesuatu yang menarik, karena kita bisa melihat sebuah miniatur kehidupan dan jiwa manusia yang mengisinya ketika kita tidak mungkin untuk menyaksikannya secara langsung di kehidupan nyata.

Hal tersebut di atas pun membuat saya menyukai film-film dengan genre psychological thriller atau psychological drama atau film yang menyentuh psyche manusia; yang benar-benar memberikan kesempatan bagi saya untuk benar-benar mengupas jiwa seseorang. Tema seperti dissociative identity disorder, schizophrenia, atau sociopath akan membuat saya orgasme dan gembira tak terkira, karena karakter-karakter yang teridentifikasi dengan hal-hal tersebut adalah karakter dengan banyak lapisan tak terduga yang seringkali memberikan kejutan dan asupan nutrisi ke dalam otak saya.

Lalu, berbicara mengenai genre. Jika ada genre yang bisa menjadi genre yang saya sukai selain psychological flick, mungkin itu adalah sci-fi. Dan, bagi saya, sebuah sci-fi haruslah cerdas. Sebuah film yang mampu memprovokasi pikiran penontonnya untuk ikut berpikir dan menganalisa. Bukan sekedar film bersetting masa depan dengan efek CGI luar biasa keren namun kering substansi serta ide. Dan, jika banyak orang menginginkan solusi, saya justru lebih menyukai film yang tidak memberikan solusi secara langsung, namun memberikan jalan menuju solusi tersebut. Film-film yang menuntut kita untuk memperhatikan detail-detail kecil yang sepele, ide-ide yang sepintas nampak remeh, dan dialog para karakternya; adalah sebuah pesta bagi saya. Terlebih lagi jika twist disajikan di film tersebut, mungkin pesta kembang api akan berlangsung di benak saya.

Dua genre di atas memang menjadi asupan utama bagi otak saya. Namun, saya sendiri tidak pernah membatasi diri saya akan genre tertentu. Saya adalah penikmat film, bukan sekedar penonton. Penikmat film, bagi saya, adalah orang yang mampu menikmati semua jenis film tanpa terkekang genre dan mampu bersikap kritis akan apa yang disaksikannya. Karena toh, dalam setiap genre film yang saya saksikan, saya masih selalu bisa melihat dan melakukan pembelajaran karakter, serta semburan ide-ide yang bisa dianalisa. Bahkan terkadang, dari film yang dicap buruk sekalipun. Karena dalam hidup, kita tidak hanya mengambil pelajaran dari yang terbaik saja bukan?

No comments:

Post a Comment