Banyak orang yang mencari pengalaman menonton jika mereka pergi ke bioskop saat ini. Jadi, mereka tidak hanya menonton filmnya saja, tapi mencari value added dari tiket yang mereka beli di mbak-mbak cantik di loket tiket. Dan pihak pengelola bioskop pun tanggap atas berubahnya pola menonton masyarakat ini. Secra perlahan tapi pasti, segala kemajuan teknologi yang berhubungan dengan gedung bioskop pun disematkan ke dalam gedung bioskop yang mereka miliki. Mulai dari teknologi suara surround sound, teknologi proyektor digital yang menghilangkan pekerjaan banyak projectionist, teknologi usang yang disebut 3D, dan juga sebuah teknologi dari brand lama di dunia sinema yang beberapa tahun belakangan booming di seluruh dunia, IMAX.
Okay, melalui tulisan ini, sebetulnya saya ingin menyampaikan ketidaksukaan saya akan dua gimmicks yang jadi jualan pengusaha bioskop (dan pencipta serta pengaplikasi teknologi). Adalah 3D dan IMAX sebagai dua gimmicks yang saya maksud tersebut. Ya, memang, bagi sebagian orang kedua teknologi tersebut akan memberikan pengalaman yang lebih bagi mereka saat menontonnya di layar lebar. Namun entah kenapa, saya sendiri merasa keduanya seperti, ya balik lagi, trik dagang saja, bukan pemberi pengalaman yang sesungguhnya.
Okay, melalui tulisan ini, sebetulnya saya ingin menyampaikan ketidaksukaan saya akan dua gimmicks yang jadi jualan pengusaha bioskop (dan pencipta serta pengaplikasi teknologi). Adalah 3D dan IMAX sebagai dua gimmicks yang saya maksud tersebut. Ya, memang, bagi sebagian orang kedua teknologi tersebut akan memberikan pengalaman yang lebih bagi mereka saat menontonnya di layar lebar. Namun entah kenapa, saya sendiri merasa keduanya seperti, ya balik lagi, trik dagang saja, bukan pemberi pengalaman yang sesungguhnya.
Teknologi 3D
Kita mulai dengan 3D. Teknologi ini sebetulnya bukan teknologi baru. Tahun 1890an dikatakan sebagai awal mula teknologi itu muncul, dimana sebuah paten untuk pemrosesan film 3D diajukan oleh pionir film asal Inggris, William Friese-Greene. Lalu, ada juga sebuah tes yang dilakukan Edwin S. Porter dan William E. Waddell di tahun 1915. Namun baru di tahun 1922-lah dicatat sebagai penggunaan 3D dalam sebuah film melalui film The Power of Love. Teknologi 3D mengalami masa keemasannya di tahun 1952-1954. Walau sempat tersandung pada masalah maintenance film dan juga pengoperasian proyektor yang rumit, namun 3D mampu bangkit. Serangkaian film yang sukses dalam versi 3D muncul di tahun-tahun ini di antaranya The Freanch Line, Taza, Son of Cochise, dan Creature from the Black Lagoon. Lalu penggunaan teknologi ini seolah meredup pada tahun 1960-1984, sebelum bangkit kembali di tahun 1985. Yang unik, kebanyakan film dalam versi 3D adalah film yang memiliki segmen khusus atau genre film. Namun sejak boomingnya 3D di tahun 2003, 3D tampaknya menjadi elemen wajib bagi banyak film blockbuster dan mainstream movie, thanks to James Cameron and his Reality Camera System.
Lalu, apa sebetulnya yang membuat saya tidak menyukai film 3D? Satu masalah utama adalah, tingkat kecerahan gambar. Gambar film 3D itu jauh lebih gelap dibandingkan dengan film 2D. Dan, saya kurang bisa menikmati warna yang disajikan jika tingkat kecerahan gambarnya seperti yang ada pada film 3D. Hal ini pun bagi saya yang membuat mata cepat lelah, karena mata dipaksa menerima gambar dengan tingkat kecerahannya rendah. Dan, saya merasa saya akan menjadi sasaran penipuan dengan menyaksikan film 3D. Karena, banyak film 3D yang ditayangkan di bioskop-bioskop saat ini merupakan film yang dikonversi ke dalam format 3D pasca proses produksi, bukan diambil gambarnya langsung dengan kamera 3D seperti yang Reality Camera System yang Cameron gunakan. Proses konversi ini pun dilakukan dalam jangka waktu terburu-buru yang bahkan terkadang mepet sekali dengan jadwal rilis, sehingga hasilnya tidak optimal. Walhasil, yang disaksikan penonton tak lebih dari film 2D yang memiliki efek relief disebagian kecil durasinya.
Namun, saya tidak sepenuhnya membenci film 3D. Setidaknya ada 3 film dalam format 3D yang saya akui memang memberikan pengalaman lebih, di mana 3D ada untuk memperkuat narasi dan cerita, bukan sekedar gimmick saja. Tiga film tersebut adalah Avatar (obviously), How To Train Your Dragon, dan Life of Pi. Tiga film ini adalah contoh penggunaan 3D yang efektif sebagai penguat cerita, bukan sebagai elemen tempelan saja.
IMAX
Lalu, apa sebetulnya yang membuat saya tidak menyukai film 3D? Satu masalah utama adalah, tingkat kecerahan gambar. Gambar film 3D itu jauh lebih gelap dibandingkan dengan film 2D. Dan, saya kurang bisa menikmati warna yang disajikan jika tingkat kecerahan gambarnya seperti yang ada pada film 3D. Hal ini pun bagi saya yang membuat mata cepat lelah, karena mata dipaksa menerima gambar dengan tingkat kecerahannya rendah. Dan, saya merasa saya akan menjadi sasaran penipuan dengan menyaksikan film 3D. Karena, banyak film 3D yang ditayangkan di bioskop-bioskop saat ini merupakan film yang dikonversi ke dalam format 3D pasca proses produksi, bukan diambil gambarnya langsung dengan kamera 3D seperti yang Reality Camera System yang Cameron gunakan. Proses konversi ini pun dilakukan dalam jangka waktu terburu-buru yang bahkan terkadang mepet sekali dengan jadwal rilis, sehingga hasilnya tidak optimal. Walhasil, yang disaksikan penonton tak lebih dari film 2D yang memiliki efek relief disebagian kecil durasinya.
Namun, saya tidak sepenuhnya membenci film 3D. Setidaknya ada 3 film dalam format 3D yang saya akui memang memberikan pengalaman lebih, di mana 3D ada untuk memperkuat narasi dan cerita, bukan sekedar gimmick saja. Tiga film tersebut adalah Avatar (obviously), How To Train Your Dragon, dan Life of Pi. Tiga film ini adalah contoh penggunaan 3D yang efektif sebagai penguat cerita, bukan sebagai elemen tempelan saja.
IMAX
Lalu, bagaimana dengan IMAX. Okay, perlu saya jelaskan di sini. Saya menganggap IMAX digital adalah sebuah gimmick semata dan sudah kelewat overrated. Ya, hanya yang digital, yang kini digunakan oleh banyak jaringan bioskop di seluruh dunia. Mengapa? Lagi-lagi, karena itu hanya gimmick dan menipu kita. Yah, sedikit menipu.
IMAX merupakan perusahaan asal Kanada yang sejarahnya bermula ketika sekelompok filmmaker eksperimental mengikuti kompetisi dalam membuat sistem layar dan proyektor yang benar-benar mampu menghasilkan pengalam menonton yang berbeda karena besarnya layar tersebut. Hal ini terjadi pada tahun 1967 di sebuah pameran bernama EXPO di Montreal, Kanada. Dan dalam waktu tiga tahun, berdirilah IMAX di mana hasil teknologi mereka yang pertama tampil di Osaka, Jepang pada tahun 1970. Namun, baru pada tahun 1971 lah IMAX mendirikan sebuah teater IMAX permanen. Dan di mana lagi tempat yang tepat untuk mendirikannya, jika bukan di Kanada? Dan dalam beberapa waktu, IMAX mendirikan banyak teater IMAX di seluruh dunia, yang biasanya terletak di komplek museum atau taman hiburan, dan film-film yang diputar di dalamnya adalah film dokumenter yang diambil gambarnya dengan kamera IMAX.
Namun, IMAX adalah perusahaan, mereka butuh profit untuk terus berkembang. Dan pemasukan dari sistem yang mereka ciptakan untuk teater yang berada di museum atau taman hiburan ini, tentunya tidak bisa mencukupi biaya operasional yang besar, termasuk diantaranya membuat film dalam format 70 mm. And then, IMAX goes mainstream. Muncullah teknologi IMAX digital. Dan IMAX pun hadir di cineplex-cineplex, di mall, dan di pusat kota. IMAX kini bukan semata untuk film dokumenter saja. Dan inilah kesalahan mereka...
Ya, memang, ini terkait keberlangsungan perusahaan mereka sendiri, namun tetap saja, menjamurnya teater IMAX di banyak cineplex adalah sesuatu yang ironis bagi saya. Karena IMAX, demi memperluas pasar, justru mempersempit layarnya. Memang benar, bahwa layarnya (terlihat) besar, bahkan terentang dari sisi ke sisi, dari langit-langit hingga lantai bioskop. But don't be fooled. Jika kalian mengetahui bagaimana trik yang IMAX lakukan, kalian mungkin akan tepok jidat.
Seorang jurnalis dari media teknologi Gizmodo pernah datang ke markas IMAX. Di sana, ia dijelaskan oleh petinggi IMAX mengenai bagaimana cara mereka bisa 'menjejalkan' layar mereka yang besar ke dalam cineplex yang berada di dalam sebuah pusat perbelanjaan. Jawabannya, renovasi ruang teater memang diperlukan. Namun kunci bagi IMAX agar bisa berhasil dalam ekspansinya ini bergantung sepenuhnya pada ilusi optis semata.
IMAX merupakan perusahaan asal Kanada yang sejarahnya bermula ketika sekelompok filmmaker eksperimental mengikuti kompetisi dalam membuat sistem layar dan proyektor yang benar-benar mampu menghasilkan pengalam menonton yang berbeda karena besarnya layar tersebut. Hal ini terjadi pada tahun 1967 di sebuah pameran bernama EXPO di Montreal, Kanada. Dan dalam waktu tiga tahun, berdirilah IMAX di mana hasil teknologi mereka yang pertama tampil di Osaka, Jepang pada tahun 1970. Namun, baru pada tahun 1971 lah IMAX mendirikan sebuah teater IMAX permanen. Dan di mana lagi tempat yang tepat untuk mendirikannya, jika bukan di Kanada? Dan dalam beberapa waktu, IMAX mendirikan banyak teater IMAX di seluruh dunia, yang biasanya terletak di komplek museum atau taman hiburan, dan film-film yang diputar di dalamnya adalah film dokumenter yang diambil gambarnya dengan kamera IMAX.
Namun, IMAX adalah perusahaan, mereka butuh profit untuk terus berkembang. Dan pemasukan dari sistem yang mereka ciptakan untuk teater yang berada di museum atau taman hiburan ini, tentunya tidak bisa mencukupi biaya operasional yang besar, termasuk diantaranya membuat film dalam format 70 mm. And then, IMAX goes mainstream. Muncullah teknologi IMAX digital. Dan IMAX pun hadir di cineplex-cineplex, di mall, dan di pusat kota. IMAX kini bukan semata untuk film dokumenter saja. Dan inilah kesalahan mereka...
Ya, memang, ini terkait keberlangsungan perusahaan mereka sendiri, namun tetap saja, menjamurnya teater IMAX di banyak cineplex adalah sesuatu yang ironis bagi saya. Karena IMAX, demi memperluas pasar, justru mempersempit layarnya. Memang benar, bahwa layarnya (terlihat) besar, bahkan terentang dari sisi ke sisi, dari langit-langit hingga lantai bioskop. But don't be fooled. Jika kalian mengetahui bagaimana trik yang IMAX lakukan, kalian mungkin akan tepok jidat.
Seorang jurnalis dari media teknologi Gizmodo pernah datang ke markas IMAX. Di sana, ia dijelaskan oleh petinggi IMAX mengenai bagaimana cara mereka bisa 'menjejalkan' layar mereka yang besar ke dalam cineplex yang berada di dalam sebuah pusat perbelanjaan. Jawabannya, renovasi ruang teater memang diperlukan. Namun kunci bagi IMAX agar bisa berhasil dalam ekspansinya ini bergantung sepenuhnya pada ilusi optis semata.
Yup, percaya atau tidak, itulah yang terjadi. Jika kalian perhatikan gambar di atas (sumber: Gizmodo), kita dapat lihat perbandingan antara sebelum dan sesudah sebuah teater dirubah menjadi teater IMAX. Layar memang diperbesar, namun tidak lebih dari 10 kaki (sekitar 3 m). Kuncinya adalah dengan memajukan layar tersebut sekitar 30 kaki (9 m) sehingga menjadi lebih dekat dengan kursi penonton. Tak lupa, beberapa baris kursi penonton yang ada di depan dihilangkan. Hal ini menciptakan efek yang sama jika kita mendekati televisi, yang pada teater IMAX digital akan memberikan impresi layar membesar hingga mencapai 75 kaki (22.5 m). Hal ini masih ditambah lagi dengan peletakkan proyektor yang lebih tinggi, dan juga langit-langit yang lebih rendah yang menciptakan ilusi optis layar terlihat besar.
Lalu penipuan masih berlanjut, kali ini pada resolusi gambar yang diproyeksikan. IMAX digital menggunakan dua proyektor digital dalam memproyeksikan gambarnya, yang masing-masing memiliki resolusi sebesar 2,000 pixel sehingga total dihasilkan gambar sebesar 4,000 pixel. Padahal, dalam format film 70 mm, resolusi yang dimiliki film IMAX biasanya berada pada kisaran 15,000 pixel. IMAX sendiri mengarsipkan film-film mereka pada resolusi 8,000 pixel dan 12,000 pixel dan secara teori, film-film IMAX (dalam format seluloid 70 mm) memiliki resolusi hingga 18,000 pixel. Bandingkan dengan IMAX digital yang kini banyak digunakan.
Saya sendiri memang belum pernah mendapatkan pengalaman yang benar-benar wah saat menyaksikan film dalam format IMAX digital. Oleh karena itu, saya hanya nonton di sana jika ada event nobar saja, yang kebetulan akan memberikan pangkasan harga (smile). Ya, tentu saja saya tidak mamu membayar lebih mahal untuk sebuah hal yang tidak saya rasakan efeknya. Bagi saya, pengalaman menonton IMAX sesungguhnya ya memang di teater IMAX yang masih menggunakan film 70 mm, dengan layar yang sangat-sangat besar demi mengakomodir film yang besar tadi, dan dalam teater yang berbentuk kubah, sehingga layarnya pun bisa membentuk lengkungan IMAX yang sempurna. Dan saya bersyukur pernah merasakan pengalaman tersebut selama beberapa kali di Teater IMAX Keong Mas, Taman Mini Indonesia Indah. Itulah pengalaman sesungguhnya menonton film IMAX. Bagi kalian yang memuji-muji bagaimana hebatnya nonton film di IMAX digital, baiknya datang ke Keong Mas, yang pernah memegang rekor sebagai teater IMAX dengan layar terbesar di dunia. Rasakan pengalaman yang sesungguhnya. No gimmicks, no tricks, pure experience. And you'll watching it closely.
Note: Teater IMAX Keong Mas disebut sebagai teater IMAX dengan bentuk paling indah di dunia. Dengan 930 kursi, teater ini adalah teater IMAX dengan kapasitas terbesar di dunia.



well said, bana.
ReplyDeleteIMAX digital bener-bener lelucon. konyolnya, waktu itu jaringan loro siji berani ngeklaim sebagai studio IMAX pertama di Indonesia. makin bikin ketawa.
teknologi 3D gua juga sepemikiran sama lo. tapi berhubung harga tiket 3D di Boqer sama aja kayak yang 2D, yah nothing to lose lah buat gua. secara gua gak terlalu terganggu dengan brightness layar yang lebih gelap.